PROSES WORK AND HOLIDAY VISA (SC 462)

Aku pertama kali tau tentang visa ini dari salah satu teman couchsurfing Amerika yang datang ke kota ku.. Rencana awal perjalanannya setelah Indonesia adalah Australia, dan kebetulan dalam sharing nya lewat e-mail dia juga menyarankan aku untuk mencari info tentang visa ini. Dan memberi kabar gembira kalau kuota visa ini untuk Indonesia di tambah menjadi 1000 orang dari sebelumnya hanya 100 orang! Kebetulan kondisi visa Work and Holiday Amerika dan Indonesia adalah sama, yaitu subclass 462. Thanks to Andy! Berkat info darinya aku bisa ke Australia, langsung saja aku wara-wiri cari informasi sendiri by googling demi my dream come true. Well, tanpa panjang lebar langsung saja aku paparkan dibawah ini.

Continue reading

DREAM INSIDE (2)

“Hey, wake up Amanda!”

Aku terbangun dari kursi panjang ini, terdengar bisikan yang membangunkan ku, suara yang ku kenal, tapi tidak ada siapa-siapa disini, hanya aku dan kucing manja yang sedari tadi menjilati kaki ku.

“Sebentar???” aku terhenyak, tersadar bahwa aku kebingungan. Rasanya aku berada diruangan yang berbeda. Ku lihat cermin kecil didapur dan kudapati kening ku memar cukup besar.

“Awww!” Aku menjerit ketika menyentuh keningku. “Luka kapan ini?” Aku semakin bingung. “Padahal tadi pulang langsung ketiduran disini.”

“Amanda, are you okay?!!!”

Aku menengok mencari sumber suara itu. Siapa yang memanggilku? Tiba-tiba terlintas di ingatanku seseorang dengan mata coklatnya yang menawan memandangku hangat. “Alexander” bisikku. Continue reading

CAP SAKTI PERTAMA-KU

“Hey! Finally I can backpacking solo abroad!!”

Yeah, itu sekitar tiga bulan yang lalu (akhirnya sempat juga aku sharing disini). Setelah menunggu hasil pengajuan cuti aku dengan berdebar-debar (berharap masih ada sisa cuti yang panjang), dan akhirnya keluar juga, duhh, cuma 8 hari doank! Tapi, puji Tuhan, itu cukup untuk liburan musim panas kali ini.

Aku memutuskan untuk mencoba backpacking sendiri. Hmm, tidak jauh juga sih, hanya ke negara tetangga di Sarawak, Malaysia. Tetapi, bagi aku, ini sudah termasuk pencapaian yang luar biasa, menggingat gadis-gadis lain se-umuran aku (yang masih muda ini 😀 ) tidak berani travelling sendiri, jika pun ada mungkin tidak banyak. Hehe!

Keinginanku untuk berpetualang sangat mengebu-gebu kala itu, bagaikan seorang pria yang berdebar-debar ingin melamar gadis pujaannya, apalagi setelah bertemu para backpacker dari negara-negara eropa sana, saling berbagi cerita seputar pertualangan mereka malah semakin membangkitkan hasratku. Continue reading

UNKNOWN

26 Oktober 2012

“Oke, see you soon”

Kututup telepon dengan sedikit perasaan cemas dan ragu. Wah, gimana nih, itu orang belum pasti ada disana lagi, jadi gak ya pergi kesana?? Otak ku di liputi berbagai options, lengkap dengan berbagai analisis positif dan negatifnya.

“Well, tetap harus pergi, apapun yang terjadi nanti, hadapi!”

Akhirnya, aku kembali mempersiapkan baju-baju kedalam ransel yang tadi masih menungguku. Berikut camilan dan beberapa food supply yang tadi aku beli. Juga dengan perasaan yang excited! I’m going to taste the new adventures by myself.

Yah, aku kali ini nekat menyusul lovely friend-ku disana, di pulau yang tidak jauh dari kota yang sudah aku tinggali belasan tahun ini, tapi belum pernah sekalipun kesana.  Aku pikir, ini lah saatnya kesempatan yang aku tunggu-tunggu tiba, menjelajahi pulau itu. Kapan lagi?

Tapi aku harus pergi kesana seorang diri. Beranikah aku? Dari hatiku yang paling dalam ada sedikit gugup. Biar bagaimanapun aku hanya seorang wanita, yang perlu pendamping, demi keselamatanku sendiri dalam perjalanan nanti. Hanya dengan modal nekat, aku teguhkan rencana aku ke pulau Lemukutan setelah mencari berbagai informasi “how to get there” dari teman ku disana.

“Ah,,, I will see you soon brosky,, I miss you already, jadi gak sabar pengen ketemu!” Akhirnya aku tertidur setelah dari tadi memikirkan apa yang akan aku hadapi besok. Yang pasti harus bangun pagi,  I don’t wanna missed the boat! Continue reading

DREAM INSIDE

Langit gelap disertai angin kencang, petir berkilat-kilat dilangit, udara dingin mulai menusuk ke sanubariku. Ku pacu lebih cepat lagi motorku yang dari tadi setia membawaku, dengan harapan cepat sampai dirumah sebelum basah kuyup.

Kunci rumah kuputar dan begitu masuk ke dalam rumah, kegelapan menyelimuti pandanganku yang nanar. Dan suara kucing lah yang menyambutku begitu aku mencapai dapur. Tidak ada orang dirumah kupikir. Aku hanya terduduk memandang kosong kucing yang bermain dikakiku, tiba-tiba lelah menyeruak dan aku terkulai lemas sambil memejamkan mata di kursi panjang.

“Apakah kau ingin tambah lagi?”

Kubuka mataku, dan kulihat sosok pria yang tidak kukenal. Matanya yang coklat menatapku sambil memegang sebotol anggur. Aku terdiam sejenak, mata ku berkeliling melihat dimana aku berada. Lampu-lampu yang lembut menyinari sekelilingku, alunan piano yang keluar dari jari-jari lentik seorang wanita di pojokan sana terdengar merdu. Mataku kembali kepada pria yang sedari tadi duduk didepanku dengan senyumnya yang menawan menunggu responku.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“I’m your fiancée” jawabnya dengen tatapan matanya yang dalam.

Apa? Fiancée? Bagaimana mungkin? Yang ada dikepalaku saat ini adalah kegelapan yang tadi aku lihat begitu aku masuk kedalam rumah, kucingku yang menyambutku, aku memejamkan mata terbaring sejenak dikursi panjang tadi. Dan begitu kubuka mataku, sosok pria yang tidak kukenal mengaku sebagai tunanganku? Apakah ini mimpi? Kucubit pahaku dan kurasakan sedikit rasa sakit disana. Continue reading